![]() |
Ilustrasi |
Duh, sampai dini hari, Selasa (29/9) masih belum
tidur juga Rama. Dua hari lagi bayi ku usianya
menginjak dua bulan. Begadang setiap hari, bisa dikatakan Ya. Segala macam tips
dan trik sudah dicoba agar Rama tidur pulas ketika malam hari. Namun kata
rekan-rekan ku yang sudah pengalaman mengurus bayi, katanya sih wajar aja
karena masih belum menginjak tiga bulan.
Aku pun coba cari informasi dari pakarnya. Menurut penelitian,
balita membutuhkan tidur selama 11 atau 12 jam setiap harinya, termasuk tidur
siang. Dr. Monique LeBourgeois dari University of Colorado melakukan penelitian
tentang hal itu. Hasilnya menunjukkan bahwa ada pengaruh tubuh yang membuat
balita menjadi susah tidur setiap malamnya. Pengaruh ini dikarenakan jam
biologis untuk tidur pada balita tidak sesuai dengan waktu tidurnya.
"Tubuh mempunyai jam biologis yang mengatur tentang
waktu tidur dan bangun kita bernama circadian rhythm. Ketika jam biologis kita
tidak sesuai dengan waktu tidur kita, maka kita akan merasa susah tidur atau
susah bangun pada waktu yang ditentukan," kata Dr. Monique, seperti
dilansir laman Kidsdr.
Penelitian dilakukan pada 14 balita sehat berusia 2,5 sampai
3 tahun. Penelitian dilakukan selama 6 hari dengan memasang monitor aktivitas
yang dipasang pada pergelangan tangannya. Monitor ini memantau kapan anak tidur
yang dicocokkan dengan catatan yang dimiliki orangtua.
Pada hari terakhir, peneliti mendatangi setiap rumah,
meredupkan lampu dan menutup gorden jendela. Lalu selama enam jam ke depan,
mereka mengambil sample air liur para balita dengan menyuruh mereka untuk
mengunyah kapas gigi. Hal ini dilakukan selama 30 menit sekali.
"Air liur ini dibutuhkan untuk mengetahui adanya
hormone melatonin yang mengatur tidur dan bangun kita," katanya lebih
lanjut.
Hormon melatonin mengatur tentang waktu tidur dan bangun
pada tubuh. Hormon ini jugalah yang diketahui membuat pola circadian rhythm.
Berasal dari otak, produksi hormon ini sangat dipengaruhi oleh cahaya. Hormon
inilah yang membuat kita merasa mengantuk di malam hari.
Menurut hasil dari test tersebut, biasanya hormon melatonin
muncul pada pukul 19.40. Sementara para balita disuruh tidur pada pukul 20.10
oleh orang tuanya, dan baru terlelap setengah jam setelahnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada balita yang melatoninnya
muncul lebih awal dari waktu tidurnya, mereka cenderung tidur lebih cepat.
Namun jika melatonin muncul di waktu yang berdekatan pada jam tidur, balita
cenderung susah untuk tidur dan baru tertidur setelah lampu dimatikan.
"Sebanyak 25 persen anak-anak dan balita mengalami
permasalahan ketika tidur, termasuk tidur di malam hari," kata Dr.
LeBourgeois lagi.
Ia juga memberi beberapa saran untuk orang tua yang memiliki
masalah tidur pada balitanya."Matikan seluruh alat elektronik yang ada di
kamar anak, menutup jendela kamar serta mematikan lampu ketika ingin
tidur," pungkasnya.
Nah, setelah aku coba mematikan lampu ketika tidur. Eh Rama
mulai mengantuk. Beberapa menit setelahnya Rama pun tertidur pulas. Terimakasih
banyak Dr. LeBourgeois atas sarannya. Semoga bermanfaat. (*)
0 comments:
Post a Comment